Senin, 01 Maret 2010

Menyerah Tidak Akan


Apa yang terjadi jika modal untuk mewujudkan mimpi harus hilang atau dihilangkan?
Belajarlah dari orang-orang ini:
- Grant Achatz seorang chef favorit di Amerika,
- Rick Allen drummer band rock legendaris Def Leppard,
- Jean-Dominique Bauby editor majalah mode terkemuka di Prancis,
- Oscar Pistorious sprinter dengan rekor 10,91 detik untuk lintasan 100 meter,
- dan Abdurahman Wahid bapak pluralisme di Indonesia.
Mereka semua sama,
Mereka mampu meraih mimpi-mimpinya,
namun sebelumnya mereka juga harus kehilangan modal untuk meraih mimpi-mimpinya,
mereka semua kehilangan organ tubuhnya,
organ-organ yang seharusnya menjadi senjata untuk meraih mimpi-mimpi mereka.

Di barat sana, Chef Grant Achatz harus menerima kenyataan mengidap kanker lidah,
yang mengharuskan dia mengamputasi lidahnya untuk bisa bertahan hidup,
Di sebrang lautan, Rick Allen harus merelakan lengan kirinya diamputasi karena kecelakaan,
Lalu di tengah eropa, Jean-Dominique Bauby harus terbaring di tempat tidur akibat stroke yang melumpuhkan seluruh tubuhnya,
Lain lagi di selatan, Oscar Pistorious harus mengamputasi kedua kakinya karena kelainan ligamen saat dia kecil dan bermimpi menjadi orang tercepat di dunia,
Kemudian Abdurahman Wahid yang harus kehilangan penglihatannya di saat dia harus menahkodai negaraku.

Apakah mereka menyerah?
Tidak sama sekali.

Chef Grant Achatz memilih bertahan dengan kemoterapi yang menyakitkan untuk kemudian mejadikan restorannya menjadi salah satu restoran terbaik di Amerika,
Rick Allen melatih kaki-kakinya untuk menggantikan lengan kirinya untuk menggebuk drum pada band yang kemudian menjadi legenda,
Jean-Dominique Bauby memanfaatkan kelopak mata kirinya, satu-satunya organ tubuh yang masih bisa digerakkan untuk menulis sebuah buku,
Oscar Pistorious percaya diri dengan kaki-kaki palsunya untuk menantang pelari-pelari berkaki di olimpiade untuk menjadi manusia tercepat di dunia,
dan Abdurahman Wahid yang menggunakan mata hatinya untuk menyatukan bangsa ini di tengah keterbatasan bola matanya.

Lalu bagaimana denganku
Apakah aku menyerah?
Seorang tukang iklan yang masih semi-pro ini kehilangan modal berharganya,
kehilangan isi hatinya, kehilangan cintanya,
Tidak..aku tidak boleh menyerah di sini,
Aku tidak akan mengecewakan semua orang yang sudah lama mendukungku,
Aku tidak akan mengecewakan ibuku,

Tanpa hati, setidaknya aku masih punya semangat,
Semangat yang kuat seperti lima orang di atas,
Semangat untuk memetik mimpi-mimpiku.

Dengan keterbatasanku yang jauh lebih beruntung dari mereka,
harusnya aku bisa,
Karena mereka semua sudah mengajarkanku bahwa tidak ada waktu untuk menyerah,
tidak akan menyerah untuk memetik mimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar