Kamis, 01 Juli 2010

Mengingat Masa Depan


Apa yang terjadi besok? Minggu depan? Lima tahun lagi?
Tidak satupun manusia yang bisa mengetahui persisnya.
Mereka cuma bisa memprediksinya.
Bagi saya masa depan kita semua ada di belakang,
berada di awal kita mumulai semua dan akan kembali kepada fase itu lagi.

Nanti di masa depan orang-orang akan kembali ngobrol sambil sesekali menepuk lawan bicaranya setelah bosan dengan twitternya.
Nanti di masa depan orang-orang akan kembali bersepeda ke kantor setelah mobil sportnya hanya berjalan 20 km/jam di jalan yang sangat padat.
Nanti di masa depan ketokan di pintu dan kalimat spada akan kembali didengar saat bertamu setelah orang-orang jengah dengan ponselnya untuk menelpon orang di dalam rumah agar keluar menghampiri.
Nanti di masa depan orang-orang akan kembali menawar dan berinteraksi di pasar setelah semakin ragu berbelanja di toko online.
Nanti di masa depan orang-orang akan kembali melakukan penelitian yang sungguh-sungguh untuk skripsinya setelah tidak ada satupun skripsi di segala penjuru dunia yang belum di copy paste.
Dan nanti pada akhirnya di masa depan orang-orang akan kembali gemar menulis untuk memperindah apa yang dilihatnya setelah tidak ada gambar yang indah untuk direkam di muka bumi.

Kembali bukan berarti mundur, lalu melangkah tidak harus ke depan.
Maka ingatlah masa depan.

Memutuskan Menjadi Kambing


Manusia merupakan makhluk hidup paling sempurna versi Tuhan. Telah diciptakan menjadi omnivora atau pemakan segala dalam bahasa mudahnya sejak pertama kali diciptakan. Mereka atau lebih tepatnya kita memerlukan asupan-asupan gizi yang begitu banyak untuk menjalankan fungsi organ-organ yang kompleks dengan baik. Keperluan berupa karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan air bisa didapat dengan mudah dari hewan dan sayur-mayur yang kita makan, dengan kata lain manusia adalah raja diraja dari piramida makanan atau tepatnya ujung atas dari rantai makanan. Hal inilah yang membedakan mereka dengan saya. Ya saya sudah memutuskan hanya memakan sayur-mayur saja atau menjadi herbivora setara dengan kambing dalam rantai makanan sejak lima tahun yang lalu.

Sesaat setelah mempublikasikan bahwa saya menjadi vegetarian orang-orang di sekitar saya termasuk keluarga mulai menebak-nebak alasan saya menjadi vegetarian karena saya memang tidak memberi alasan kepada mereka. Diet, dianggap menganut Budha, kalah taruhan, menjalankan kaul karena saya masuk UI, bahkan dianggap sedang melakukan pesugihan sudah biasa saya dengar dari mereka yang penasaran akan alasan saya menjadi vegetarian. Tidak ada satupun alasan dari mereka yang benar bahkan yang menyerempet benar pun tidak ada.

Diet untuk mengurangi berat badan adalah alasan umum untuk orang menjadi vegetarian, tapi hal itu tidak berlaku untuk saya, berat badan saya malah meroket tanpa batas beberapa bulan setelah saya menjadi vegetarian. Biasanya berat saya mentok pada angka 61 kilo menjadi 78 kilo!! Mengerikan!! Gembul sekali. Dari situ muncul anggapan lain bahwa saya bekas pemadat yang sudah insaf dan sukses melakukan rehab. Saya tidak kaget dengan anggapan itu karena saya juga menyadari bahwa yang tadinya saya cungkring menjadi seperti pensiunan polisi, gendut dan menggelambir. Memang pola makan saya jadi berubah setelah saya memutuskan menjadi vegetarian. Saya jadi memperbanyak porsi karbohidrat pada setiap sesi makan. Bukan berarti saya memperbanyak jatah nasi saya tapi mengganti lauk pauk yang biasanya sarat protein menjadi karbohidrat. Ambil contoh: saya makan nasi dengan sambal goreng kentang sebagai ganti dari daging. Nasi adalah sumber karbohidrat, begitupula dengan kentang. Mengingat kita tinggal di negara yang kaya akan kuliner maka saya bisa memakan kedua bahan tersebut selama seminggu berturut-turut tentu dengan variasi makanan yang lain. Kesimpulannya alasan pertama gugur karena melihat perubahan bentuk badan saya.

Menganut Budha jelas tidak apalagi menjalankan ritual pesugihan, haduhh mungkin yang beranggapan seperti itu kebanyakan nonton sinetron misteri. Kalah taruhan pun tidak, masa depan kok dipertaruhkan. Kalau menjalankan kaul karena saya masuk UI malah melenceng jauh sekali, waktu itu saya sangat yakin kalau saya akan diterima di sana, jadi tidak perlu kaul-kaulan.weitss. Jadi semua alasan yang disangka-sangka orang semuanya mental.

Alasan sebenarnya saya menjadi vegetarian sebenarnya ada dua. Pertama adalah pikiran masa kecil saya bahwa semua hewan itu punya keluarga dan mereka bisa berbicara satu sama lainnya menggunakan bahasa mereka sendiri yang tidak dimengerti manusia. Berkat pemikiran itulah timbul rasa kasihan dan tidak tega untuk membunuh hewan untuk selanjutnya dimakan. Sapi saja menyusui anaknya hingga 14 bulan dan induknya mengunyahkan rumput untuk makanan anaknya hingga minggu kedua, berarti memang mereka itu mempunyai keluarga, mereka berkomunikasi namun tidak dimengerti oleh manusia. Hanya manusia yang tega merusak kehangatan keluarga itu. Adapula kisah si ayam yang sedari kecil hingga besar hanya tinggal di kandang yang ngepas dengan tubuh mereka dan dipaksa bertelur sepanjang tahun, dan sebelum anaknya menetas manusia terlebih dahulu membuatnya menjadi sarapan. Bayangkan pula jika ada makhluk yang diciptakan lebih berakal dari manusia dengan proporsi badan yang lebih besar, maka dengan yakin manusialah yang akan diburu menggantikan posisi si sapi dan si ayam. Berawal dari khayalan-khayalan masa kecil itu ditambah rasa bersalah setelah 18 tahun membuat ribuan anak ayam menjadi yatim piatu saya memutuskan menjadi vegetarian.

Alasan kedua rasanya lebih bisa diterima akal sehat. Saya sejujurnya memutuskan menjadi vegetarian adalah sebagai sarana menahan nafsu. Untuk bisa menahan nafsu-nafsu yang luar biasa menggoda bisa dilakukan dengan menahan nafsu yang terdekat dari kita, ya maksudnya dengan tidak memakan daging-daging itu termasuk kari kepiting kesukaan saya. Mungkin itu bisa menjelaskan korelasi antara menjadi vegetarian dan sarana penahan nafsu , tapi saya bisa menjamin bahwa amarah saya jadi sulit diluapkan semenjak saya memutuskan menjadi vegetarian.

Setelah lima tahun ini saya menjadi vegetarian saya tidak pernah menemui masalah kesehatan karenanya dan selalu menghadirkan efek yang masih terasa sampai sekarang yaitu setiap kali saya mengunjungi restoran padang dan memesan nasi dengan lauk daun singkong dan sayur nangka dapat dipastikan si pelayan memberikan serpihan-serpihan rendang, dan setiap kali saya menolaknya pasti si pelayan berkata, “Ini gratis ko mas.” Oooo ternyata mereka iba dengan saya, mereka berpikir saya tidak punya cukup uang untuk membeli lauk, di situlah sebenarnya keramahtamahan dan kepedulian bangsa kita terlihat jelas, namun mungkin mereka memberikan bantuan kepada orang yang salah. Mungkin kalau saya jelaskan akan sulit dimengerti mereka, ada alasan apa seorang vegetarian mampir makan di restoran padang yang komposisi makananya 80 persen adalah bangsa dedagingan, jadi daripada membuat pusing mereka saya hanya mengucapkan terima kasih. Banyak pula yang menganggap bahwa saya akan membuat repot jika diajak makan, padahal tidak sama sekali. Saya bisa makan di manapun mereka mengajak saya makan. Jadi kata kuncinya jangan ambil pusing buat manusia-manusia yang memutuskan menjadi kambing.

Senin, 14 Juni 2010

Cerpen : Bulan Enam Iman


Pagi masih enggan untuk bangun hari ini. Mendung yang sudah menjadi penyambut pagi beberapa hari ini datang kembali. Tak terasa ini sudah bulan Juni. Mungkin waktu berputar cepat di Jakarta ini sampai-sampai banyak yang tidak sadar telah setengah tahun berjalan di tahun 2010. Begitu yang dirasakan Iman yang sedang berlari-lari kecil di ujung jalan komplek rumahnya. Tidak biasanya Iman sudah beraktivitas sepagi ini lebih-lebih setelah dia menjadi karyawan di agensi periklanan multinasional tepat dua bulan yang lalu. Biasanya jam 06.10 seperti yang ditunjukan di jam tangan Casionya, dia masih bergelut dengan guling lepeknya di atas tempet tidur. Wajah riangnya sembari berlari kecil makin menandakan ada yang lain di hari ini.

Rona wajah iman begitu riang di pagi ini, bahkan bisa dibilang wajah paling bahagianya di tahun ini. Tidak seperti bulan Juni tahun lalu dimana muka iman berbeda seratus delapan puluh derajat dari mukanya di Juni tahun ini. Ya saat itu Iman sedang bersedih setelah putus dengan pacarnya yang sudah berjalan bersama selama lima tahun. Kesedihan itu melengkapi kesedihan di Juni tahun sebelumnya lagi dimana Iman harus mengulang kelas statistiknya setelah gagal untuk kedua kalinya saat ujian. Seolah semua kesialanannya di bulan Juni tahun-tahun sebelumnya terlupakan dengan raut muka bahagianya di pagi ini. Setelah lari kecil kurang lebih setengah jam, Iman sudah berada kembali di depan pagar rumahnya. Dia pun langsung masuk dan menyambar handuk untuk segera menuju kamar mandi. Keriangan masih terpancar dengan lagu-lagu yang dinyanyikannya di kamar madi.

Dua puluh menit berlalu di kamar mandi dengan iringan lagu-lagu era sembilan puluhan yang dinyanyikannya, kemudian Iman segera berpakaian siap untuk ke kantor. “Mas berisik banget sih? Aku jadi kepagian nih.” Gerutu Abi adik laki-lakinya yang juga satu-satunya. “Ayo bangun, jangan males! Udah pagi, siap-siap sekolah.” Balas Iman masih dengan aura riangnya. “Kan aku udah libur mas.” Jawab Abi dengan menguap. “Oh iya.” Jawaban singkat Iman yang mulai ingat bahwa adik kecilnya itu baru saja lulus SMP. Kemudian Iman mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya lalu diberikan kepada adiknya. “Nih bulanannya, mas tambahin karena nilai UANmu bagus.” Abi yang tadinya bermuka sedikit kesal berubah menjadi riang hampir menyerupai kakaknya. “Makasih Mas.” Begitulah selalu suasana awal bulan di rumah itu, penuh dengan keriangan. Terlebih setelah dua bulan ini dimana Iman sudah resmi menjadi tulang punggung keluarganya. Dengan gaji yang menurutnya sangat cukup dari agensi periklanan multinasional tempatnya bekerja dia membagi-bagikan gajinya kepada adik serta ibunya yang selama ini menjadi tulang punggung utama keluarga dengan warung soto ayamnya di ruko ujung komplek. Ayahnya yang seorang tentara angkatan laut telah meninggal saat Iman berusia 19 tahun. “Loh mas kok tumben pagi-pagi gini udah rapih?” Tanya ibunya dengan lembut. “Mau supervisi bu.” Jawab Iman sambil menyuap lontong sayur yang sudah disiapkan ibunya. “Supervisi apa mas?” Tanya ibunya lagi penasaran. “Iklanku bu.” Jawab Iman lagi. Ibunya pun mengerti ternyata hari ini adalah hari pertama iklan billboard dari sebuah provider seluler yang dibuat anaknya akan dipasang. Cerita tentang iklan itu sudah menjadi primadona cerita di rumah ini sebulan terakhir. Itulah jawaban akan muka Iman yang sangat riang di hari ini.

Dua bulan bekerja di agensi periklanan multinasional dan berperan sebagai Junior Art Director menjadikan iklan billboardnya ini begitu spesial. Selain ini yang pertama jarang sekali sebagai art director baru diberi kepercayaan membuat iklan yang menurutnya sangat krusial untuk kelanjutan bisnis kliennya, si provider seluler itu. Iklan billboard yang dibuatnya itu akan terpampang kurang lebih dua bulan ke depan di salah satu perempatan jalan teramai di Jakarta. Alasan itu yang membuatnya yakin iklan ini berpengaruh terhadap bisnis kliennya tersebut terlebih tema iklannya kali ini benar-benar baru dari iklan sebelumnya. Tidak sabar Iman ingin melihat iklan buatannya tersebut sampai-sampai lontong sayur yang disiapkan ibunya tidak habis dimakan.

“Loh mas kok gak naik motor?” Tanya ibunya heran. “Naik busway aja bu, kan sekalian mau supervisi.” Jawab Iman sambil menutup pagar rumahnya. Pikirnya dengan naik busway dia bisa melihat iklan buatannya lebih lama dibandingkan dengan naik motor. Sekalian juga melihat reaksi penumpang busway setelah melihat iklannya. Mungkin hari ini Iman adalah orang teriang yang berada di halte busway yang pengap dan tidak teratur antriannya. Dengan menaiki busway butuh waktu satu setengah jam untuk Iman sampai di kantornya yang berada di daerah Senayan. Hari ini busway sangat padat seperti pagi-pagi biasanya dan Iman berdiri di bagian belakang bus. Dia memastikan mendapat pandangan yang baik untuk melihat iklannya di tempatnya berdiri.

Gerimis sedang sudah mulai turun di Jakarta membuat jam delapan pagi segelap seperti jam tujuh malam. Iman berharap hujan deras belum turun saat dia melihat iklannya. Dua halte lagi, kurang dari lima menit lagi, perempatan CSW di kiri. Jantung Iman berdetak sambil mengukur jarak dalam hatinya. Sesaat kemudian Iman menjadi orang yang paling bahagia yang pernah menaiki busway selama sejarah angkutan itu diresmikan. Apalagi kalau bukan saat dia melihat iklan billboardnya untuk pertama kali di dalam busway. Raut mukanya sangat riang. Dalam hatinya berkata, “Iklan gwe nih, gwe yang bikin nih, gwe yang punya Jakarta.” Euphoria yang dirasakan mungkin oleh semua pembuat iklan saat melihat iklan buatannya di tempat umum untuk pertama kalinya. Iklan billboard yang dibuat Iman memang besar dimensinya. Tempatnya berada di perempatan CSW kiri jalan menuju Blok M memang membuatnya pasti dilihat atau setidak-tidakknya terlihat orang yang melintasi jalan itu. Beberapa orang di dalam busway yang ditumpangi Iman juga melihat iklan provider seluler yang menempatkan ikon produknya dengan atribut sepakbola. Maklum bulan ini adalah bulannya sepakbola. Tidak ada reaksi berlebihan dari orang yang melihatnya di dalam busway. Tidak ada yang seekspresif Iman saat melihat iklan tersebut. Tapi itu tidak mengurangi kadar riang Iman di hari ini.

Setelah melintasi iklannya tersebut, Iman lantas harus kembali lagi bertukar bus karena bus yang ditumpanginya itu sebenarnya sudah melewati kantornya. Dalam kata lain Iman menaiki busway arah sebaliknya untuk bisa ke kantor dan juga melihat iklannya lagi karena memang jalur bus ini akan melintasi billboard itu lagi. Kadar riang Iman tidak menurun saat melihat iklannya untuk kedua kalinya. Meskipun kali ini berlangsung sangat cepat karena sedang lampu hijau. Saat turun di halte busway dekat dengan kantornya, hujan mulai turun lebat disertai kilatan petir serta tiupan angin yang kencang membuat Iman terpaksa memakai jasa ojek payung untuk sampai ke kantornya.

Sesampainya di kantor, wajah riang Iman belum luntur meskipun sebagian celana jeansnya basah karena hujan. Sebagian orang di kantornya yang mengetahui sebab muka riang Iman segera, menyambut, “Cieee yang iklannya baru kepajang, mukanya sumringah banget.” Muka riang itu terus dibawanya hingga ke meja kerjanya. Muka riang itu akan menghadapi ujian pertamanya yaitu komputer di depan matanya yang siap mengejutkan dengan kiriman email-email berupa pekerjaan baru maupun revisi. Setelah menyelidiki isi emailnya yang cukup banyak satu-persatu, kadar riangnya tidak berkurang. Hanya sedekit enyitan di dahi saat Iman membaca berita tentang penyerbuan tentara Israel ke kapal pengangkut bantuan yang telah dibroadcast email oleh beberapa temannya. Iman selalu berpendapat bahwa nyawa seseorang tidak layak diambil oleh orang lain seperti hal yang terjadi di email yang dibacanya. Itu sejalan dengan piala penghargaan yang diterimanya saat acara gathering kantor terakhir yaitu: Piala Mr. Tidak Tegaan. Memang piala ini dibuat secara bercanda oleh teman-teman kantornya namun cukup menjelaskan kelembutan hati Iman. Piala berbentuk origami kertas berbentuk nyamuk itu terpajang manis di sebelah komputernya.

Jam sudah menunjukkan satu jam lebih lama dari waktu masuk normal di kantornya namun belum banyak orang yang datang. Mungkin lebatnya hujan angin di luar menghalangi mereka yang ingin masuk tepat waktu di kantor. Hujan hari ini memang menjadi yang terbesar dibandingkan hujan-hujan lain dalam minggu ini, namun derasnya hujan dan kencangngnya angin belum bisa menghilangkan raut riang di wajah Iman hari ini. Saat browsing sambil menyeruput teh manis anget yang selalu disediakan OB di mejanya tiap pagi tiba-tiba ponselnya bergetar. Itu adalah panggilan masuk dari Mas Okta, group head creative di kantornya, atasannya langsung. Iman pun segera menyambut telpon dari bosnya yang memang sejak tadi belum berada di mejanya di ujung koridor. “Ya mas?” sapa Iman di telpon. “Man kamu dimana?” Tanya Mas Okta. “Di kantor mas.” Jawab Iman cepat. “Kamu udah liat iklanmu?” Tanya Mas Okta lagi kali ini dengan nada sedikit gusar. “Udah mas, keren ya?” Jawab Iman sedikit sombong. “Yang sekarang udah liat? Aku kena macet gara-gara iklanmu nih.” Sambut Mas Okta yang mulai membuat bingung Iman. “Coba liat detik man.” Perintah Mas Okta kepada Iman untuk membuka portal berita. Tidak lama berselang Iman menjadi sesosok manekin yang sangat buruk untuk dilihat dengan ponsel di telinga kirinya lalu mouse di tangan kanannya. Kadar riang Iman yang sudah terjaga dari pagi pun tiba-tiba saja menghilang dari mukanya saat membaca headline dari portal berita tersebut. “Billboard Iklan Roboh, Tewaskan Empat Orang.”

Senin, 01 Maret 2010

Cinta,,cinta,,Euforia


Jatuh Cinta,,
Hal paling menyenangkan di bumi ini,,
Menemukan orang yang cocok,,
Orang yang sangat mengerti kita,,
Sampai orang yang bisa membuat kita tertawa sepanjang hari.

Tapi yakinkah yang dirasakan itu cinta?
Atau cuma sekedar euforia?

Euforia,,
Rasanya gak berbeda dengan cinta,,
Sama-sama bisa membuat senang,,
Sama-sama bisa membuat orang berubah,,

Euforia bisa berwujud mendapatkan orang yang klik dengan cepat,,
Orang yang menyenangkan saat diajak ngobrol,,
Orang yang bisa membuat tertawa,,
Yang akhirnya menemukan orang yang bisa membuat itu menjadi seperti cinta.

Euforia kadang berlangsung begitu cepat,,
Tapi adapula yang berlangsung sangat lama,,
Sampai-sampai kedua orang tersebut tidak sadar hanya bereuforia sepanjang hidupnya.

Lalu apa yang membedakan cinta dan euforia?
Hingga kita harusnya hanya bisa memilih cinta.

Sulit membedakannya.

Namun bisa terlihat di akhir kisahnya.
Cinta akan berakhir pada kebahagian yang tak henti-henti atau malah sakit yang teramat perih,,
lalu Euforia hanya akan menemukan ujung kisahnya pada sebuah kehambaran yang berlalu begitu saja.

Selamat bereuforia.

Menyerah Tidak Akan


Apa yang terjadi jika modal untuk mewujudkan mimpi harus hilang atau dihilangkan?
Belajarlah dari orang-orang ini:
- Grant Achatz seorang chef favorit di Amerika,
- Rick Allen drummer band rock legendaris Def Leppard,
- Jean-Dominique Bauby editor majalah mode terkemuka di Prancis,
- Oscar Pistorious sprinter dengan rekor 10,91 detik untuk lintasan 100 meter,
- dan Abdurahman Wahid bapak pluralisme di Indonesia.
Mereka semua sama,
Mereka mampu meraih mimpi-mimpinya,
namun sebelumnya mereka juga harus kehilangan modal untuk meraih mimpi-mimpinya,
mereka semua kehilangan organ tubuhnya,
organ-organ yang seharusnya menjadi senjata untuk meraih mimpi-mimpi mereka.

Di barat sana, Chef Grant Achatz harus menerima kenyataan mengidap kanker lidah,
yang mengharuskan dia mengamputasi lidahnya untuk bisa bertahan hidup,
Di sebrang lautan, Rick Allen harus merelakan lengan kirinya diamputasi karena kecelakaan,
Lalu di tengah eropa, Jean-Dominique Bauby harus terbaring di tempat tidur akibat stroke yang melumpuhkan seluruh tubuhnya,
Lain lagi di selatan, Oscar Pistorious harus mengamputasi kedua kakinya karena kelainan ligamen saat dia kecil dan bermimpi menjadi orang tercepat di dunia,
Kemudian Abdurahman Wahid yang harus kehilangan penglihatannya di saat dia harus menahkodai negaraku.

Apakah mereka menyerah?
Tidak sama sekali.

Chef Grant Achatz memilih bertahan dengan kemoterapi yang menyakitkan untuk kemudian mejadikan restorannya menjadi salah satu restoran terbaik di Amerika,
Rick Allen melatih kaki-kakinya untuk menggantikan lengan kirinya untuk menggebuk drum pada band yang kemudian menjadi legenda,
Jean-Dominique Bauby memanfaatkan kelopak mata kirinya, satu-satunya organ tubuh yang masih bisa digerakkan untuk menulis sebuah buku,
Oscar Pistorious percaya diri dengan kaki-kaki palsunya untuk menantang pelari-pelari berkaki di olimpiade untuk menjadi manusia tercepat di dunia,
dan Abdurahman Wahid yang menggunakan mata hatinya untuk menyatukan bangsa ini di tengah keterbatasan bola matanya.

Lalu bagaimana denganku
Apakah aku menyerah?
Seorang tukang iklan yang masih semi-pro ini kehilangan modal berharganya,
kehilangan isi hatinya, kehilangan cintanya,
Tidak..aku tidak boleh menyerah di sini,
Aku tidak akan mengecewakan semua orang yang sudah lama mendukungku,
Aku tidak akan mengecewakan ibuku,

Tanpa hati, setidaknya aku masih punya semangat,
Semangat yang kuat seperti lima orang di atas,
Semangat untuk memetik mimpi-mimpiku.

Dengan keterbatasanku yang jauh lebih beruntung dari mereka,
harusnya aku bisa,
Karena mereka semua sudah mengajarkanku bahwa tidak ada waktu untuk menyerah,
tidak akan menyerah untuk memetik mimpi.

Superman But Not So (Not So Superman)


Alkisah hiduplah superman putra bisma,
dilahirkan untuk tak terkalahkan,
dibesarkan untuk jadi yang terkuat,
dikaruniai kemampuan jauh di atas manusia lainnya,
dan yang terpenting hanya bisa mati atas kemauannya sendiri.

Superman putra bisma tumbuh di smallvile, daerah kecil yang menginginkannya untuk menjadi besar,
diasuh manusia yang mengharapkan kelak dirinya untuk menjadi pahlawan,
dan dibisiki dongeng-dongeng yang membuatnya bisa meyakini semua hal yang dianggap tidak mungkin oleh manusia lainnya.

Superman putra bisma semakin besar,
keluar dari smallvile ke tempat yang lebih besar, kota astina,
tempat berkumpulnya kejahatan,
tempat dimana dia ditasbihkan menjadi pahlawan,
tempat orang-orang berteriak untuk pertolongannya.

Superman putra bisma makin mengenal banyak manusia di astina, lebih banyak dari yang dikenalnya di smallvile.
Kedekatan dengan banyak manusia membuatnya tidak tertarik dengan kekuatannya,
menyesali kesempurnaan yang sudah diberikan,
dan sesekali berkehendak untuk bisa mati bukan karena kehendaknya sendiri.

Superman putra bisma berjalan di tengah kerumunan orang untuk bisa merasa sama,
berbaur dengan mengandalkan kepalsuannya.
Di tengah kota astina dia menemukan sebuah batu,
batu krypton biru muda yang tidak dipedulikan oleh semua orang di sekitarnya.
Lalu diapun menggenggam krypton biru muda itu dengan sebuah pertanyaan kenapa batu seindah ini dibiarkan tergeletak dan tidak ada yang peduli.

Duuuuuorrr
ledakan sangat keras,
seketika terjadi kebakaran hebat di tengah kota astina, di jalan yang dia lalui.
Superman putra bisma terlempar dengan menggenggam krypton biru muda di tanggannya.
Dia merasakan panas yang sebelumnya tidak pernah dirasakannya,
mengerang kesakitan yang sebelumnya tidak pernah disuarakan,
dan meneteskan darah untuk pertama kalinya.
Dia merasakan banyak hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
Kekuatan krypton biru muda mencegah superman putra bisma mengeluarkan kekuatannya dan anehnya hal itu membuatnya tersenyum.

Superman putra bisma semakin bisa berbaur dengan orang-orang disekelilingnya.
Tidak ada lagi manusia yang unik di situ dan nama superman putra bisma sudah tidak dikenal lagi.
Dia telah menjadi manusia biasa tapi tidak belajar sifat dari manusia itu sendiri,
ketergantungan: dengan krypton biru muda yang digenggam untuk meredam kekuatannya,
ketakutan akan kehilangan: krypton biru muda yang digenggam yang membuatnya selalu berprasangka buruk,
dan yang terburuk yang belum dia sadari yaitu ketidak pedulian.

Superman putra bisma hanya memikirkan bagaimana krypton biru muda yang digenggamnya tidak terlepas dengan melupakan orang-orang disekelilingnya,
orang-orang yang pernah mengandalkannya,
orang-orang yang sudah membuatnya merasa sama.

Dengan sedikit kemauan Tuhan maka krypton biru muda lepas dari genggaman superman putra bisma. Dia kembali memiliki kekuatan yang lama tidak dikeluarkan,
kekuatan yang bisa membantu orang-orang di sekelilingnya,
kekuatan yang tidak bisa dikontrolnya,
kekuatan yang ingin sekali dia sembunyikan.

Lalu pilihannya hanya dua: memanfaatkan kekuatan itu untuk membantu orang lain untuk menjadi pahlawan lagi namun membuatnya bosan disanjung
atau dimanfaatkan untuk menjadikannya penjahat super yang sangat merusak namun pasti menjadi pengalaman yang menarik dan menyenangkan untuknya.

Saat ini superman putra bisma memilih untuk menggunakan kekuatannya untuk menjadi pahlawan lagi, nyali dan keberaniannya belum cukup untuk membuatnya menjadi penjahat super.

Di tengah ketidakmampuan menyembunyikan kekuatannya,
superman putra bisma menunggu Tuhan mengeluarkan sedikit kemampuanNya lagi untuk memberi kesempatan menemukan kembali krypton biru muda,
bukan untuk mendapat kesempatan menggenggam krypton kuning yang tidak bisa menghilangkan kekuatan maupun krypton merah yang malah melipat gandakan kekuatan.

Sekarang superman putra bisma hanya meninggalkan sifat ketergantungan dari manusia biasa yang sempat dirasakan untuk sisi buruknya
dan sifat percaya pada keajaiban yang akan mendatanginya pada sisi lainnya.
Dia ingin menggenggam krypton biru muda lagi untuk meredam kekuatannya,
untuk keinginan mati bukan hanya karena kehendaknya sendiri,
untuk jadi yang terkalahkan,
untuk jadi manusia.

Belajarlah Dari Rasa


Manis, itulah kata yang selalu mendefinisikan perasaan senang seseorang, perasaan cinta.
Gula itu manis dan begitulah rasanya cinta, kata yang keluar dari orang-orang yang sedang jatuh cinta.
Ibaratkan diri kita lidah yang siap menerima rasa apapun terutama manis
untuk kemudian distimuluskan ke otak untuk menenangkan hati.
Jika cinta itu manis maka nikmatilah itu,
jangan ditambahkan,
dibuat-buat,
dan berlebihan
karena cinta haruslah alami dan cukup.
Seperti halnya rasa manis yang ditambahkan terus menerus dengan rasa manis,
sesendok gula ditambahkan beberapa sendok gula lagi karena merasa belum cukup manis
maka yang didapat adalah rasa pahit,
rasa yang tidak pernah diharapkan sebelumnya atau sama sekali tidak diharapkan.
Terlalu manis kemudian menjadi pahit.
Lalu fasenya akan berubah menjadi sebuah kehambaran.
Lidah yang pahit akan coba dinetralkan oleh air putih yang tidak berasa.
Berapa lama kehambaran itu terjadi tergantung seberapa dosis gula yang diberikan ke lidah,
semakin banyak gula maka semakin lama pula rasa hambar itu.
Kemudian nikmatilah air putih itu walaupun perut sudah kembung dan bosan dengan rasanya
karena ini proses
untuk bisa merasakan
manisnya
gula
lagi.


Nikmati cinta jangan dihiperbola.

Serial Artificial


Ini fase yang tidak menyenangkan,,
mendapati semua yang ada palsu,,
yang diawali dengan ketidak jujuran akan menghasilkan ketidak jujuran pula,,
saat mendapati ketidakjujuran itu menjadi hal yang tidak bisa ditutup"i,,
sebuah kenyataaan harus diutarakan,,
namun sudah tidak lagi berguna dengan perubahan itu,,
sedikit bahasa jujur akan merusak susunan ketidak jujuran selama ini,,
dan akhirnya membawa masuk ke bentuk ketidak jujuran lainnya,,
tertawa lepas namun tidak merasakannya,,
berkata baik" saja padahal tidak sama sekali,,
melakukan hal" yang tidak terlalu baik lalu dibilang hebat,,
Ini fase yang tidak menyenangkan,,
keluar dari satu ketidak jujuran namun melompat ke ketidak jujuran lainnya,,
hasil dari ketidak jujuran yang digunakan untuk menghiperbola sebuah kejujuran yang terlalu biasa diungkapkan: aku cinta kamu.

Kenapa Kumis?


Punya mimpi itu pasti,,mewujudkannya masalah nanti...
Itu merupakan quote terburuk yang mengakibatkan banyak orang jadi skeptis dan berpikir bermimpi di masa sekarang ini cuma menjadi cara membuang waktu terburuk. Itu akan terjadi kalo kita gak pernah mewujudkan mimpi kita, atau bahasa terbaliknya adalah: belum merasakan mimpi kita terwujud.
Masa sebagai anak-anak adalah masa dimana mimpi menjadi sarapan, makan siang, dan makan malam. Setiap hari bermimpi,setiap waktu bermimpi, tanpa memikirkan kekecewaan andaikata tidak terwujud. mimpi di setiap kepala anak pasti berbeda-beda. Ada yang bermimpi menjadi dokter, mimpi keliling dunia, atau mungkin mimpi memiliki taman jurassic sendiri. Diantara banyak mimpi tersebut ada satu mimpi yang sama di setiap anak: mimpi menjadi orang tua.
Anak kecil pasti tidak mau dipanggil anak kecil. Mereka ingin merasakan menjadi ayahnya yang sedang mengotak-atik mesin mobil dan ingin menjadi ibunya agar tidak dimarahi lagi kalo main ujan-ujanan. Untuk itu mereka memoleskan lipstik ke bibirnya, menaburkan bedak di wajahnya, dan memakai bra ibunya bagi anak perempuan. Lalu yang laki-laki: mencoretkan spidol diantara bibir dan hidungnya, mereka memerlukan kumis untuk menjadi orang tua.
Setelah menemukan kembali memori anak-anak itu maka gwe mencoba untuk memanjangkan kumis. Bukan untuk menjadi orang tua dan terlihat dewasa namun sebagai bagian perwujudan mimpi. Bagaimana kita bisa mewujudkan mimpi besar kalo mimpi kecilnya belum terwujud. Bagaimana kita bisa melihat taman bunga yang indah di luar pagar kalo kita belum membuka pintu kamar kita. Untuk itu semua gwe memutuskan menjadi pria berkumis, untuk mimpi besar yang ada di depan, untuk melepas kopling secara perlahan agar mobil berjalan, dan untuk meyakini kalo mimpi sama sekali tidak membuang waktu.

Maka segeralah melangkah,,tumbuhkan kumismu,, temani aku...bukan cuma sebagai pria berkumis tapi juga temani dalam menikmati mimpi-mimpi besar yang akan terwujud.