Kamis, 01 Juli 2010

Mengingat Masa Depan


Apa yang terjadi besok? Minggu depan? Lima tahun lagi?
Tidak satupun manusia yang bisa mengetahui persisnya.
Mereka cuma bisa memprediksinya.
Bagi saya masa depan kita semua ada di belakang,
berada di awal kita mumulai semua dan akan kembali kepada fase itu lagi.

Nanti di masa depan orang-orang akan kembali ngobrol sambil sesekali menepuk lawan bicaranya setelah bosan dengan twitternya.
Nanti di masa depan orang-orang akan kembali bersepeda ke kantor setelah mobil sportnya hanya berjalan 20 km/jam di jalan yang sangat padat.
Nanti di masa depan ketokan di pintu dan kalimat spada akan kembali didengar saat bertamu setelah orang-orang jengah dengan ponselnya untuk menelpon orang di dalam rumah agar keluar menghampiri.
Nanti di masa depan orang-orang akan kembali menawar dan berinteraksi di pasar setelah semakin ragu berbelanja di toko online.
Nanti di masa depan orang-orang akan kembali melakukan penelitian yang sungguh-sungguh untuk skripsinya setelah tidak ada satupun skripsi di segala penjuru dunia yang belum di copy paste.
Dan nanti pada akhirnya di masa depan orang-orang akan kembali gemar menulis untuk memperindah apa yang dilihatnya setelah tidak ada gambar yang indah untuk direkam di muka bumi.

Kembali bukan berarti mundur, lalu melangkah tidak harus ke depan.
Maka ingatlah masa depan.

Memutuskan Menjadi Kambing


Manusia merupakan makhluk hidup paling sempurna versi Tuhan. Telah diciptakan menjadi omnivora atau pemakan segala dalam bahasa mudahnya sejak pertama kali diciptakan. Mereka atau lebih tepatnya kita memerlukan asupan-asupan gizi yang begitu banyak untuk menjalankan fungsi organ-organ yang kompleks dengan baik. Keperluan berupa karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan air bisa didapat dengan mudah dari hewan dan sayur-mayur yang kita makan, dengan kata lain manusia adalah raja diraja dari piramida makanan atau tepatnya ujung atas dari rantai makanan. Hal inilah yang membedakan mereka dengan saya. Ya saya sudah memutuskan hanya memakan sayur-mayur saja atau menjadi herbivora setara dengan kambing dalam rantai makanan sejak lima tahun yang lalu.

Sesaat setelah mempublikasikan bahwa saya menjadi vegetarian orang-orang di sekitar saya termasuk keluarga mulai menebak-nebak alasan saya menjadi vegetarian karena saya memang tidak memberi alasan kepada mereka. Diet, dianggap menganut Budha, kalah taruhan, menjalankan kaul karena saya masuk UI, bahkan dianggap sedang melakukan pesugihan sudah biasa saya dengar dari mereka yang penasaran akan alasan saya menjadi vegetarian. Tidak ada satupun alasan dari mereka yang benar bahkan yang menyerempet benar pun tidak ada.

Diet untuk mengurangi berat badan adalah alasan umum untuk orang menjadi vegetarian, tapi hal itu tidak berlaku untuk saya, berat badan saya malah meroket tanpa batas beberapa bulan setelah saya menjadi vegetarian. Biasanya berat saya mentok pada angka 61 kilo menjadi 78 kilo!! Mengerikan!! Gembul sekali. Dari situ muncul anggapan lain bahwa saya bekas pemadat yang sudah insaf dan sukses melakukan rehab. Saya tidak kaget dengan anggapan itu karena saya juga menyadari bahwa yang tadinya saya cungkring menjadi seperti pensiunan polisi, gendut dan menggelambir. Memang pola makan saya jadi berubah setelah saya memutuskan menjadi vegetarian. Saya jadi memperbanyak porsi karbohidrat pada setiap sesi makan. Bukan berarti saya memperbanyak jatah nasi saya tapi mengganti lauk pauk yang biasanya sarat protein menjadi karbohidrat. Ambil contoh: saya makan nasi dengan sambal goreng kentang sebagai ganti dari daging. Nasi adalah sumber karbohidrat, begitupula dengan kentang. Mengingat kita tinggal di negara yang kaya akan kuliner maka saya bisa memakan kedua bahan tersebut selama seminggu berturut-turut tentu dengan variasi makanan yang lain. Kesimpulannya alasan pertama gugur karena melihat perubahan bentuk badan saya.

Menganut Budha jelas tidak apalagi menjalankan ritual pesugihan, haduhh mungkin yang beranggapan seperti itu kebanyakan nonton sinetron misteri. Kalah taruhan pun tidak, masa depan kok dipertaruhkan. Kalau menjalankan kaul karena saya masuk UI malah melenceng jauh sekali, waktu itu saya sangat yakin kalau saya akan diterima di sana, jadi tidak perlu kaul-kaulan.weitss. Jadi semua alasan yang disangka-sangka orang semuanya mental.

Alasan sebenarnya saya menjadi vegetarian sebenarnya ada dua. Pertama adalah pikiran masa kecil saya bahwa semua hewan itu punya keluarga dan mereka bisa berbicara satu sama lainnya menggunakan bahasa mereka sendiri yang tidak dimengerti manusia. Berkat pemikiran itulah timbul rasa kasihan dan tidak tega untuk membunuh hewan untuk selanjutnya dimakan. Sapi saja menyusui anaknya hingga 14 bulan dan induknya mengunyahkan rumput untuk makanan anaknya hingga minggu kedua, berarti memang mereka itu mempunyai keluarga, mereka berkomunikasi namun tidak dimengerti oleh manusia. Hanya manusia yang tega merusak kehangatan keluarga itu. Adapula kisah si ayam yang sedari kecil hingga besar hanya tinggal di kandang yang ngepas dengan tubuh mereka dan dipaksa bertelur sepanjang tahun, dan sebelum anaknya menetas manusia terlebih dahulu membuatnya menjadi sarapan. Bayangkan pula jika ada makhluk yang diciptakan lebih berakal dari manusia dengan proporsi badan yang lebih besar, maka dengan yakin manusialah yang akan diburu menggantikan posisi si sapi dan si ayam. Berawal dari khayalan-khayalan masa kecil itu ditambah rasa bersalah setelah 18 tahun membuat ribuan anak ayam menjadi yatim piatu saya memutuskan menjadi vegetarian.

Alasan kedua rasanya lebih bisa diterima akal sehat. Saya sejujurnya memutuskan menjadi vegetarian adalah sebagai sarana menahan nafsu. Untuk bisa menahan nafsu-nafsu yang luar biasa menggoda bisa dilakukan dengan menahan nafsu yang terdekat dari kita, ya maksudnya dengan tidak memakan daging-daging itu termasuk kari kepiting kesukaan saya. Mungkin itu bisa menjelaskan korelasi antara menjadi vegetarian dan sarana penahan nafsu , tapi saya bisa menjamin bahwa amarah saya jadi sulit diluapkan semenjak saya memutuskan menjadi vegetarian.

Setelah lima tahun ini saya menjadi vegetarian saya tidak pernah menemui masalah kesehatan karenanya dan selalu menghadirkan efek yang masih terasa sampai sekarang yaitu setiap kali saya mengunjungi restoran padang dan memesan nasi dengan lauk daun singkong dan sayur nangka dapat dipastikan si pelayan memberikan serpihan-serpihan rendang, dan setiap kali saya menolaknya pasti si pelayan berkata, “Ini gratis ko mas.” Oooo ternyata mereka iba dengan saya, mereka berpikir saya tidak punya cukup uang untuk membeli lauk, di situlah sebenarnya keramahtamahan dan kepedulian bangsa kita terlihat jelas, namun mungkin mereka memberikan bantuan kepada orang yang salah. Mungkin kalau saya jelaskan akan sulit dimengerti mereka, ada alasan apa seorang vegetarian mampir makan di restoran padang yang komposisi makananya 80 persen adalah bangsa dedagingan, jadi daripada membuat pusing mereka saya hanya mengucapkan terima kasih. Banyak pula yang menganggap bahwa saya akan membuat repot jika diajak makan, padahal tidak sama sekali. Saya bisa makan di manapun mereka mengajak saya makan. Jadi kata kuncinya jangan ambil pusing buat manusia-manusia yang memutuskan menjadi kambing.