Senin, 14 Juni 2010

Cerpen : Bulan Enam Iman


Pagi masih enggan untuk bangun hari ini. Mendung yang sudah menjadi penyambut pagi beberapa hari ini datang kembali. Tak terasa ini sudah bulan Juni. Mungkin waktu berputar cepat di Jakarta ini sampai-sampai banyak yang tidak sadar telah setengah tahun berjalan di tahun 2010. Begitu yang dirasakan Iman yang sedang berlari-lari kecil di ujung jalan komplek rumahnya. Tidak biasanya Iman sudah beraktivitas sepagi ini lebih-lebih setelah dia menjadi karyawan di agensi periklanan multinasional tepat dua bulan yang lalu. Biasanya jam 06.10 seperti yang ditunjukan di jam tangan Casionya, dia masih bergelut dengan guling lepeknya di atas tempet tidur. Wajah riangnya sembari berlari kecil makin menandakan ada yang lain di hari ini.

Rona wajah iman begitu riang di pagi ini, bahkan bisa dibilang wajah paling bahagianya di tahun ini. Tidak seperti bulan Juni tahun lalu dimana muka iman berbeda seratus delapan puluh derajat dari mukanya di Juni tahun ini. Ya saat itu Iman sedang bersedih setelah putus dengan pacarnya yang sudah berjalan bersama selama lima tahun. Kesedihan itu melengkapi kesedihan di Juni tahun sebelumnya lagi dimana Iman harus mengulang kelas statistiknya setelah gagal untuk kedua kalinya saat ujian. Seolah semua kesialanannya di bulan Juni tahun-tahun sebelumnya terlupakan dengan raut muka bahagianya di pagi ini. Setelah lari kecil kurang lebih setengah jam, Iman sudah berada kembali di depan pagar rumahnya. Dia pun langsung masuk dan menyambar handuk untuk segera menuju kamar mandi. Keriangan masih terpancar dengan lagu-lagu yang dinyanyikannya di kamar madi.

Dua puluh menit berlalu di kamar mandi dengan iringan lagu-lagu era sembilan puluhan yang dinyanyikannya, kemudian Iman segera berpakaian siap untuk ke kantor. “Mas berisik banget sih? Aku jadi kepagian nih.” Gerutu Abi adik laki-lakinya yang juga satu-satunya. “Ayo bangun, jangan males! Udah pagi, siap-siap sekolah.” Balas Iman masih dengan aura riangnya. “Kan aku udah libur mas.” Jawab Abi dengan menguap. “Oh iya.” Jawaban singkat Iman yang mulai ingat bahwa adik kecilnya itu baru saja lulus SMP. Kemudian Iman mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya lalu diberikan kepada adiknya. “Nih bulanannya, mas tambahin karena nilai UANmu bagus.” Abi yang tadinya bermuka sedikit kesal berubah menjadi riang hampir menyerupai kakaknya. “Makasih Mas.” Begitulah selalu suasana awal bulan di rumah itu, penuh dengan keriangan. Terlebih setelah dua bulan ini dimana Iman sudah resmi menjadi tulang punggung keluarganya. Dengan gaji yang menurutnya sangat cukup dari agensi periklanan multinasional tempatnya bekerja dia membagi-bagikan gajinya kepada adik serta ibunya yang selama ini menjadi tulang punggung utama keluarga dengan warung soto ayamnya di ruko ujung komplek. Ayahnya yang seorang tentara angkatan laut telah meninggal saat Iman berusia 19 tahun. “Loh mas kok tumben pagi-pagi gini udah rapih?” Tanya ibunya dengan lembut. “Mau supervisi bu.” Jawab Iman sambil menyuap lontong sayur yang sudah disiapkan ibunya. “Supervisi apa mas?” Tanya ibunya lagi penasaran. “Iklanku bu.” Jawab Iman lagi. Ibunya pun mengerti ternyata hari ini adalah hari pertama iklan billboard dari sebuah provider seluler yang dibuat anaknya akan dipasang. Cerita tentang iklan itu sudah menjadi primadona cerita di rumah ini sebulan terakhir. Itulah jawaban akan muka Iman yang sangat riang di hari ini.

Dua bulan bekerja di agensi periklanan multinasional dan berperan sebagai Junior Art Director menjadikan iklan billboardnya ini begitu spesial. Selain ini yang pertama jarang sekali sebagai art director baru diberi kepercayaan membuat iklan yang menurutnya sangat krusial untuk kelanjutan bisnis kliennya, si provider seluler itu. Iklan billboard yang dibuatnya itu akan terpampang kurang lebih dua bulan ke depan di salah satu perempatan jalan teramai di Jakarta. Alasan itu yang membuatnya yakin iklan ini berpengaruh terhadap bisnis kliennya tersebut terlebih tema iklannya kali ini benar-benar baru dari iklan sebelumnya. Tidak sabar Iman ingin melihat iklan buatannya tersebut sampai-sampai lontong sayur yang disiapkan ibunya tidak habis dimakan.

“Loh mas kok gak naik motor?” Tanya ibunya heran. “Naik busway aja bu, kan sekalian mau supervisi.” Jawab Iman sambil menutup pagar rumahnya. Pikirnya dengan naik busway dia bisa melihat iklan buatannya lebih lama dibandingkan dengan naik motor. Sekalian juga melihat reaksi penumpang busway setelah melihat iklannya. Mungkin hari ini Iman adalah orang teriang yang berada di halte busway yang pengap dan tidak teratur antriannya. Dengan menaiki busway butuh waktu satu setengah jam untuk Iman sampai di kantornya yang berada di daerah Senayan. Hari ini busway sangat padat seperti pagi-pagi biasanya dan Iman berdiri di bagian belakang bus. Dia memastikan mendapat pandangan yang baik untuk melihat iklannya di tempatnya berdiri.

Gerimis sedang sudah mulai turun di Jakarta membuat jam delapan pagi segelap seperti jam tujuh malam. Iman berharap hujan deras belum turun saat dia melihat iklannya. Dua halte lagi, kurang dari lima menit lagi, perempatan CSW di kiri. Jantung Iman berdetak sambil mengukur jarak dalam hatinya. Sesaat kemudian Iman menjadi orang yang paling bahagia yang pernah menaiki busway selama sejarah angkutan itu diresmikan. Apalagi kalau bukan saat dia melihat iklan billboardnya untuk pertama kali di dalam busway. Raut mukanya sangat riang. Dalam hatinya berkata, “Iklan gwe nih, gwe yang bikin nih, gwe yang punya Jakarta.” Euphoria yang dirasakan mungkin oleh semua pembuat iklan saat melihat iklan buatannya di tempat umum untuk pertama kalinya. Iklan billboard yang dibuat Iman memang besar dimensinya. Tempatnya berada di perempatan CSW kiri jalan menuju Blok M memang membuatnya pasti dilihat atau setidak-tidakknya terlihat orang yang melintasi jalan itu. Beberapa orang di dalam busway yang ditumpangi Iman juga melihat iklan provider seluler yang menempatkan ikon produknya dengan atribut sepakbola. Maklum bulan ini adalah bulannya sepakbola. Tidak ada reaksi berlebihan dari orang yang melihatnya di dalam busway. Tidak ada yang seekspresif Iman saat melihat iklan tersebut. Tapi itu tidak mengurangi kadar riang Iman di hari ini.

Setelah melintasi iklannya tersebut, Iman lantas harus kembali lagi bertukar bus karena bus yang ditumpanginya itu sebenarnya sudah melewati kantornya. Dalam kata lain Iman menaiki busway arah sebaliknya untuk bisa ke kantor dan juga melihat iklannya lagi karena memang jalur bus ini akan melintasi billboard itu lagi. Kadar riang Iman tidak menurun saat melihat iklannya untuk kedua kalinya. Meskipun kali ini berlangsung sangat cepat karena sedang lampu hijau. Saat turun di halte busway dekat dengan kantornya, hujan mulai turun lebat disertai kilatan petir serta tiupan angin yang kencang membuat Iman terpaksa memakai jasa ojek payung untuk sampai ke kantornya.

Sesampainya di kantor, wajah riang Iman belum luntur meskipun sebagian celana jeansnya basah karena hujan. Sebagian orang di kantornya yang mengetahui sebab muka riang Iman segera, menyambut, “Cieee yang iklannya baru kepajang, mukanya sumringah banget.” Muka riang itu terus dibawanya hingga ke meja kerjanya. Muka riang itu akan menghadapi ujian pertamanya yaitu komputer di depan matanya yang siap mengejutkan dengan kiriman email-email berupa pekerjaan baru maupun revisi. Setelah menyelidiki isi emailnya yang cukup banyak satu-persatu, kadar riangnya tidak berkurang. Hanya sedekit enyitan di dahi saat Iman membaca berita tentang penyerbuan tentara Israel ke kapal pengangkut bantuan yang telah dibroadcast email oleh beberapa temannya. Iman selalu berpendapat bahwa nyawa seseorang tidak layak diambil oleh orang lain seperti hal yang terjadi di email yang dibacanya. Itu sejalan dengan piala penghargaan yang diterimanya saat acara gathering kantor terakhir yaitu: Piala Mr. Tidak Tegaan. Memang piala ini dibuat secara bercanda oleh teman-teman kantornya namun cukup menjelaskan kelembutan hati Iman. Piala berbentuk origami kertas berbentuk nyamuk itu terpajang manis di sebelah komputernya.

Jam sudah menunjukkan satu jam lebih lama dari waktu masuk normal di kantornya namun belum banyak orang yang datang. Mungkin lebatnya hujan angin di luar menghalangi mereka yang ingin masuk tepat waktu di kantor. Hujan hari ini memang menjadi yang terbesar dibandingkan hujan-hujan lain dalam minggu ini, namun derasnya hujan dan kencangngnya angin belum bisa menghilangkan raut riang di wajah Iman hari ini. Saat browsing sambil menyeruput teh manis anget yang selalu disediakan OB di mejanya tiap pagi tiba-tiba ponselnya bergetar. Itu adalah panggilan masuk dari Mas Okta, group head creative di kantornya, atasannya langsung. Iman pun segera menyambut telpon dari bosnya yang memang sejak tadi belum berada di mejanya di ujung koridor. “Ya mas?” sapa Iman di telpon. “Man kamu dimana?” Tanya Mas Okta. “Di kantor mas.” Jawab Iman cepat. “Kamu udah liat iklanmu?” Tanya Mas Okta lagi kali ini dengan nada sedikit gusar. “Udah mas, keren ya?” Jawab Iman sedikit sombong. “Yang sekarang udah liat? Aku kena macet gara-gara iklanmu nih.” Sambut Mas Okta yang mulai membuat bingung Iman. “Coba liat detik man.” Perintah Mas Okta kepada Iman untuk membuka portal berita. Tidak lama berselang Iman menjadi sesosok manekin yang sangat buruk untuk dilihat dengan ponsel di telinga kirinya lalu mouse di tangan kanannya. Kadar riang Iman yang sudah terjaga dari pagi pun tiba-tiba saja menghilang dari mukanya saat membaca headline dari portal berita tersebut. “Billboard Iklan Roboh, Tewaskan Empat Orang.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar